Perdarahan Pembunuh Nomor Satu Ibu Melahirkan

Angka Kematian Ibu (AKI) Kabupaten Purbalingga meningkat. Dari sebelumnya di tahun 2011 mencapai 15 kasus atau 99 per 100.000 kelahiran hidup, menjadi 21 kasus atau 136 per 100.000 kelahiran hidup di tahun 2012. Perdarahan menjadi penyebab utama kematian ibu.

“Perdarahan memang menjadi pembunuh nomor satu para ibu dalam proses persalinan. Persoalannya, kasus perdarahan sangat sering terjadi,” ujar Kepala Dinas Kesehatan drg Hanung Wikantono MKes di sela-sela Seminar Kebidanan 2013 di Bale Apoeng Bojongsari, Sabtu (16/3).
 Penyebab perdarahan sangat beragam, diantaranya karena faktor resiko tinggi yang terjadi pada ibu melahirkan di usia yang terlalu muda, atau sebaliknya terlalu tua dan ibu yang sudah terlalu sering melahirkan. Salah satu usaha untuk mengantisipasi perdarahan lebih lanjut yang berujung kematian ibu, bidan harus membekali diri dengan ketrampilan dan pengetahuan yang memadai.
“Seminar ini selain untuk meningkatkan angka kredit mereka, juga bermanfaat sekali untuk meningkatkan skill dan wawasan para bidan ketika mereka menghadapi kasus perdarahan post partus. Apalagi bagi bidan-bidan di pelosok perdesaan yang jauh dari rumah sakit,” imbuhnya.
Selain perdarahan, kematian ibu juga dapat disebabkan oleh keracunan kehamilan yang mengakibatkan hipertensi. Pencegahan perdarahan sangat bisa dilakukan dengan menurunkan faktor resiko dengan kehamilan di usia yang pas (tidak terlalu tua atau terlalu muda), dan mengendalikan kehamilan yang terlalu sering.
“Pencegahan juga bisa dilakukan dengan sering memeriksakan kehamilan pada tenaga kesehatan baik itu bidan maupun dokter obgyn. Sekarang adanya Jampersal dan jamkesmas, saya kira sudah tidak ada alas an lagi untuk enggan melakukan pemeriksaan kehamilan,” tegasnya.
Dilihat dari jumlah bidan, menurut Hanung, Purablingga telah melampaui target nasional satu desa satu bidan. Sebab, di Kecamatan Mrebet, yaitu Desa Kradenan dan Cipaku telah tersedia dua bidan dalam satu desa. Hal ini disebabkan jumlah penduduk setempat yang memang relative banyak dan luas wilayahnya juga relative besar.
“Saat ini, jumlah bidan yang terdata di bawah DKK, ada sebanyak 333 bidan. Sedang jumlah total bidan di Purbalingga termasuk yang swasta dan PTT, mecapai 436 bidan. Jadi untuk jumlah sebenarnya tidak terlalu masalah, tinggal meng-up grade ketrampilan dan wawasan para bidan itu sedniri sehingga pertolongan pertama sebelum dirujuk, sudah maksimal dulu,” terangnya.
Sementara itu, Bupati Purbalingga Drs H Heru Sudjatmoko MSi mengatakan AKI menjadi salah satu indicator keberhasilan pembangunan. Jika AKI meningkat, seluruh tim kesehatan khususnya para bidan harus mampu mencari antisipasinya agar angka kematian dapat ditekan.
“Saya senang dengan antusiasme ibu-ibu dalam mengikuti seminar ini. Dengan ilmu yang diambil disini, semoga dapat menjadi salah satu upaya menekan Angka Kematian Ibu (AKI),” jelas bupati yang telah mencalonkan diri sebagai Wakil Gubernur Jateng mendampingi Politikus Ganjar Pranowo.

Dalam seminar sehari yang diselenggarakan Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Purbalingga ini, hadir sebagai pembicara dr Mukhamad Noryanto SpOG, Staf Lab/ Smt Obstertri Ginekologi RSU dr Saiful Anwal Malang yang juga Kepala Program Studi S1 Kebidanan di FKUB. Selain itu, hadir pula pembicara lain Sri Rahayu Dpi Mw SKep Ns MKes yang dikenal sebagai Ketua Program Studi D-IV Kebidanan Poltekes Malang. Peserta selain bidan-bidan se_akbupaten Purbalingga yang masuk dalam anggota IBI, juga mereka yang berdomisili di kabupaten-kabupaten sekitar termasuk Banyumas, Banjarnegara dan Cilacap.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *